Jumat, 31 Juli 2009

Martha Yoriza H.

KOMENTAR
I. Pengantar
Responden yang kami hormati. Seminggu yang lalu peneliti sudah meminta bantuan Saudara untuk membaca, memahami, dan mengkritisi tulisan yang diberi judul “E-135: sebagai Draf Model Pengembangan Pembelajaran Linguistik di Universitas Andalas” yang ditulis oleh Sawirman tahun 1999 (32 halaman, ketikan 1 spasi, font geramond 11, ukuran kertas A4). Berkenaan dengan tulisan tersebut, kami berharap bantuan Saudara untuk menjawab sejumlah pertanyaan berikut dengan sekritis-kritisnya. Jawaban Saudara tidak akan berpengaruh sama sekali dengan profesi, pendidikan, dan pekerjaan yang sedang Saudara tekuni saat ini. Terima kasih atas bantuan Saudara.

II. Identitas Diri
Nama : Martha Yoriza H.
Pekerjaan : Mahasiswi Program Linguistik Pascasarjana UNAND.

III. Pertanyaan
A. Terma E-135
(1)
Apakah Saudara pernah membaca/ mendengar terma E-135 dalam referensi lain selain rancangan model yang ditulis dan dirancang oleh Sawirman yang ada di tangan Saudara? Bila iya dimana?

Jawaban: Belum pernah.

(2)
Terma E-135 adalah singkatan dari E=Eksemplar, 1=Hermeneutika, 3=formalis, kritis, dan cultural studies/ posmodernis, serta 5= tahapan analisis (elaborasi, representasi, signifikasi, eksplorasi, dan transfigurasi), bagaimanakah menurut Saudara dengan nama itu?

Jawaban: Penilaian awal sebelum membaca materi, E-135 dibayangkangkan seperti sebuah rumus matematika, bukan bahasa. Setelah dibaca lebih lanjut, baru saya mengetahui singkatan terma tersebut. Selama tidak menimbulkan kerancuan pada pembaca, pilihan penulis dengan nama terma ini menurut saya tidak menjadi masalah.

(3)
Apakah Saudara memiliki usulan nama lain untuk “pengganti” terma E-135?

Jawaban: Tidak, cukup nama terma E-135 ini di publikasikan seluas-luasnya.



B. Hermeneutika dalam Linguistik
(4)
Apakah Saudara setuju dengan Hermeneutika dijadikan sebagai basis ontologis pengembangan linguistik khususnya mata-mata kuliah “makro” seperti wacana, semiotika, bahasa media, serta bahasa dan ideologi, dan lain-lain?

Jawaban: Pada dasarnya saya setuju hermeneutika dijadikan sebagai basis ontologis pengembangan linguistik khususnya terhadap mata-mata kuliah “makro” karena hermeneutika memusatkan kajiaannya pada ihwal penafsiran atau interpretasi makna di dalam teks. Jadi, para mahasiswa, dosen, atau peneliti yang menggeluti kajian makro seperti wacana, semiotika, bahasa media, bahasa dan ideologi, dll. bisa lebih “bebas” menginterpretasikan tanda, baik tanda linguistik atau nonlinguistik yang akan dianalisisnya.



(5)
Sejauhmanakah Saudara mengenal aliran filsafat Hermeneutika beserta tokoh-tokohnya?

Jawaban : saya belum begitu mendalami ilmu tentang hermeneutika, tetapi saya mengenal beberapa tokoh hermeneutika seperti F.D.E Schleiermarcher, Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, dan Paul Ricoeur.

C. Teori-teori “Formalis” dalam Linguistik
(6)
Apakah Saudara setuju dengan batasan konsep “Formalisme” dalam tulisan tersebut? Alasan Saudara?

Jawaban : setuju, karena pemabatasan konsep formalism menunjukkan kejelasan batasan antara satu konsep dengan konsep yang lain.

(7)
Terkait dengan batasan tulisan tersebut tentang “Formalisme”, sejauhmanakah Saudara mengenal teori-teori Formalis beserta tokoh-tokohnya?

Jawaban : saya mengenal konsep formalism yang dikemukan oleh Halliday yang menelurkan teori cohesion dan transitivity.

(8)
Bagaimanakah harusnya analisis linguistik yang eksplanatoris yang diharapkan Chomsky (bukan hanya deskriptif) menurut Saudara?



C. Teori-teori Kritis dalam Linguistik
(9)
Apakah Saudara setuju dengan batasan konsep Teori Kritis dalam tulisan tersebut? Alasan Saudara?

Jawaban : setuju dengan dengan batasan konsep teori kritis dalam tulisan ini karena pada akhirnya, semua akan bermuara pada pemaknaan terdalam terhadap sebuah simbol.

(10)
Terkait dengan batasan tulisan tersebut tentang “Teori Kritis”, sejauhmanakah Saudara mengenal teori-teori Kritis dalam Linguistik beserta tokoh-tokohnya?

Jawaban : saya belum mempelajari banyak tentang teori kritis.

(11)
Bagaimanakah Kontribusi teori-teori kritis seperti model Norman Fairclough, van Dick, atau tokoh-tokoh lain di mata Anda?

Jawaban: kontribusi tentu saja member sesuatu yang baru, menyempurnakan yang lama.

D. Teori-teori “Cultural Studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis” dalam Linguistik
(12)
Apakah Saudara setuju dengan batasan konsep “Cultural Studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis” dalam tulisan tersebut? Alasan Saudara?

Jawaban: setuju, tetapi dengan batasan konsep “cultural studies/ posmodernis/dekonstruksionis” yang terdapat dalam tulisan ini, alasalkan “pembongkaran” yang dilakukan masih dalam unsur-unsur yang saling berkaitan dan bersifat logis.


(13)
Terkait dengan batasan tulisan tersebut tentang “Cultural Studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis”, sejauhmanakah Saudara mengenal teori-teori tersebut dalam Linguistik beserta tokoh-tokohnya?

Jawaban : saya mengenal teori cultural studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis yang paling sentral adalah Derrida.

(14)
Bagaimanakah Kontribusi “Cultural Studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis, seperti Derrida, Foucault, Lyotard, dan lain-lain di mata Anda?

Jawaban: kontribusi pencetus teori inilah yang memperkaya warna dalam Cultural Studies/ Posmodernis/ Dekonstruksionis.

E. Tahapan Analisis E-135
Bagaimanakah menurut Saudara tahapan E-135 untuk menganalisis Mata Kuliah Wacana? Silakan komentari kelebihan, kelemahan, dan peluangnya di masa mendatang!

(15)
Tahapan Elaborasi (Tahap Linguistik)



Jawaban : cukup mendukung untuk perkembangan bidang mikro linguistik di masa yang akan datang.






(16)
Tahapan Representasi
(Interteks Vertikal/Horizontal)



Jawaban : terkadang dapat membinggungkan, karena dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda.






(17)
Tahapan Signifikasi (Semiotika)

Jawaban : tergantung pada analisis wacana yang sudah terbentuk, hanya saja hasilnya sangat dipengaruhi oleh kejelimetan penganalisis dalam memaknai dan menginterpretasikan penanda dan petanda.










(18)
Tahapan Eksplorasi (Dimensi Ilmu Lain)


Jawaban : sama dengan jawaban no 17




(19)
Tahapan Transfigurasi
(Pemetaan/Makna Hiperealis)

Jawaban : Menurut saya, pada tahap inilah analisis wacana sesungguh dilakukan karena makin tinggi pemahaman subjektif (horizon ekpektasi) seseorang, maka semakin baik dan mendalamlah makna yang dihadirkannya.







Tahap “Penundaan Makna”
(20)
Kebenaran makna dalam e-135 menganut “Prinsip Penundaan”? Bagaimanakah menurut Anda?


Jawaban : prinsip penundaan makna adalah sebuah hal yang baik, karena dengan adanya penundaan makna, kita tidak terlalu terburu-buru memaknai sesuatu(data). Melalui prinsip penundaan, pada akhirnya akan ditemukan makna yang lebih kompleks dan mendalam.









(21)
Bisakah Saudara membedakan Prinsip Penundaan Makna Menurut Derrida dan/atau Lyotard dengan e-135?










(22)
Bagaimanakah Prinsip Penundaan Makna dengan terma “Rekonstruksi Makna” dalam e-135?


Jawaban : penundaan E-135 dalam terjadi dengan hal yang lebih kompleks dan berulang kali.






Tahap Pengayangan Makna (Melting Pot)
(23)
Untuk mengungkap interpretasi pemaknaan terdalam dalam e-135 dapat dilakukan dengan pengayangan makna (melting pot) dengan model/diagram tersendiri, bagaimanakah menurut Saudara?

Jawaban : dapat dilakukan.








(24)
Bisakah model pengayangan makna yang diagram yang diusulkan mampu mengungkap “makna terdalam” (depth meaning) Baudrillard dalam Analisis Wacana menurut Saudara?

Jawaban : bisa








F. Pertanyaan Umum secara Holistik
(25)
Apakah e-135 telah ditulis dengan baik sesuai dengan Ejaan yang benar? Silakan kemukakan alasan Anda?

Jawaban : secara umum sudah mengikuti aturan EYD, walau di sana-sini terkadang masih ada yang luput dari perhatian penulis.

(26)
Apakah e-135 telah ditulis sesuai dengan kaidah dan etika akademis? Silakan kemukakan alasan Anda?

Jawaban : draf teori e-135 telah ditulis dengan kaidah dan etika akademis, namun perlu kiranya ditambahkan komentar para ahli linguistik, dosen, atau peneliti dari luar Indonesia sebagai penguatan konsep.

(27)
Apakah e-135 telah dipikirkan dengan baik dan ditulis dengan baik? Silakan kemukakan alasan Anda?

Jawaban: menurut saya e-135 telah telah dipikirkan dan ditulis dengan baik oleh penulis. Alasan saya mengatakan hal ini karena saya melihat latar belakang, visi, dan misi e-135 yang begitu bagus, konsep teori yang begitu matang dan model analisis yang sangat terpadu dan mendalam. Saya merasa penemuan baru ini layak memperoleh apresiasi.

(28)
Apakah kelebihan dari e-135 menurut Anda?

Jawaban : kelebihan e-135 adalah keterpaduan model analisisnya yang mampu menerapkan analisis dari tahapan formalis/mikro sampai pada tahapan trasfigurasi, sehingga dapat menghasilkan interpretasi yang mengagumkan.

(29)
Apakah e-135 tidak terlalu ambisius?

Jawaban : sebuah proyek masa depan, lumrah saja jika ada sisi ambisius yang muncul.

(30)
Apakah target yang diharapkan dari e-135 masuk akal dan realistis?

Jawaban : cukup realistis

(31)
Apakah e-135 sesuai dengan tujuan penelitian wacana?

Jawaban : sejauh ini e-135 sudah sesuai dengan tujuan penelitian wacana karena tujuan akhir penelitian wacana adalah interpretasi yang mendalam terhadap relasi antara peristiwa dan makna.

(32)
Apakah sudah ditunjukkan bahwa e-135 ini tidak merupakan pengulangan dari
yang sudah pernah dilakukan?

Jawaban : E-135 cukup menunjukkan identitas diri sendiri.

(33)
Apakah e-135 sesuai dengan kepakaran peneliti?

Jawaban : cukup sesuai, teruji dan berharap dapat di maksimalkan para peneliti

(34)
Apakah sudah ditunjukkan keterkaitan dengan pustaka-pustaka/hasil penelitian yang sudah terbit/sudah dilakukan?

Jawaban : lengkap

(35)
Apakah e-135 yang diajukan dapat dianggap inovatif dalam analisis wacana? Mengapa?


Jawaban : e-135 yang diajukan dapat dianggap inovatif dalam analisis wacana karena telah melahirkan model analisis wacana baru yang lebih kompleks dan terpadu, sehingga diharapkan akan menghasilkan interpretasi analisis wacana yang lebih baik.

(36)
Apakah metode yang diajukan dapat menjawab tujuan yang diharapkan?


Jawaban : saya berkeyakinan bisa.

(37)
Apakah e-135 sudah dipertimbangkan dengan baik? Mengapa

Jawaban : e-135 sudah dipertimbangkan dengan baik karena tanpa melalui pertimbangan yang matang tidak mungkin akan lahir sebuah draf teori yang mendetail seperti e-135 ini.

(38)
Apakah e-135 yang diajukan masuk akal dan realistis?

Jawaban : masuk akal dan cukup realistis

(39)
Apakah dengan sumberdaya, buku, dan peralatan yang ada e-135 dapat dilaksanakan dalam mata kuliah wacana di S2?

Jawaban : tidak ada alasan untuk kata tidak.

(40)
Apakah dengan sumberdaya, buku, dan peralatan yang ada e-135 dapat dilaksanakan dalam mata kuliah wacana di S1?

Jawaban : untuk tahap pengenalan saya rasa cukup pemahaman S1.

G. Penutup
(41)
Bagaimanakah harusnya analisis linguistik yang ideal menurut Saudara?

Jawaban : analisis linguistik yang ideal adalah analisis linguistik yang mampu menghasilkan analisis dan interpretasi “terdalam” dari sebuah data.

(42)
Terkait dengan pertanyaan dimaksud, Bagaimanakah kontribusi E-135 untuk menjadikan ilmu linguistik menjadi semakin humanis serta semakin berguna bagi kemanusiaan, kemasyarakatan, dan perjuangan etsi/moral?

Jawaban : Saya sangat optimis bahwa term E-135 dapat menjadikan ilmu linguistik menjadi semakin humanis serta semakin berguna bagi kemanusiaan, kemasyarakatan, dan perjuangan etnis/moral.

(43)
Item-item/ pertanyaan-pertanyaan nomor berapakah yang sulit Saudara pahami/ambigu? Mengapa?



(44)
Mohon diberikan saran-saran lain terkait dengan e-135 di luar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan?

Jawaban : Sebaiknya term e-135 lebih disempurnakan lagi baik dari segi bahasanya maupun dari format penyajiannya supaya lebih mudah dipahami dan menarik untuk dibaca.

(45)
Mohon diberikan saran-saran lain terkait dengan e-135 di luar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan?



Padang, 15 Juni 2009



Nama: Martha Yoriza H.
Signature

Tidak ada komentar:

Posting Komentar