Jumat, 31 Juli 2009

ANALISIS ALIH KODE DAN INTEFERENSI DALAM MAJALAH SISTER DENGAN MENGGUNAKAN TEORI E-135

Oleh Dini Maulia*

1. PENDAHULUAN
Pengukuhan kedudukan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional menimbulkan dampak positif sekaligus ancaman bagi perkembangan bahasa nasional suatu Negara, salah satunya Indonesia. Bahasa Inggris memfasilitasi kita sarana untuk menggali ilmu dan menjangkau penelitian mutakhir dari berbagai Negara di dunia, tetapi di lain sisi sarana tersebut juga dapat menenggelamkan bahasa kesatuan kita. Seperti yang diungkapkan oleh Ismail Kusmayadi dalam Pikiran Rakyat bahwa sebagai bukti telah terkikisnya bahasa Indonesia akibat arus globalisasi yang cenderung menuntut penguasaan bahasa asing adalah berkembangnya pengguanaan bahasa asing dalam pergaulan sehari-hari. Parahnya penggunaan bahasa tersebut cenderung dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.
Inteferensi dan alih kode merupakan fenomena pencampuradukkan dua bahasa atau lebih yang terjadi dalam penggunaan sebuah bahasa. Masyarakat yang melakukan inteferensi maupun alih kode tersebut dapat diidentikan dengan masyarakat multi bahasa, seperti yang diungkapkan Romaine dalam Foley (1999: 333) perhaps the most prototypical case of code switching is alternating between distinct languages, a phenomenon associated with bilingualism. Adapun pengertian masyarakat multi bahasa adalah masyarakat yang menggunakan dua bahasa atu lebih dalam berkomunikasi, dimana ketika mereka berkomunikasi bahasa yang mereka gunakan tersebut memberi efek antara satu yang lainnya (Chaika, 1982:225). Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa asing yang cenderung sering diinteferensikan ke dalam bahasa Indonesia. Pengaruh kuat dari bahasa Inggris tersebut dikarenakan statusnya sebagai bahasa dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Holborow (1999:1) the use of English around the world brings into sharp linguistics focus the effects of globalization. Artinya penyebaran bahasa Inggris tersebut erat kaitannya dengan globalisasi dunia. Adapun masyarakat yang cenderung mendapat pengaruh banyak untuk menggunakan bahasa asing tersebut digambarkan oleh Mesthrie (2001;168) sebagai berikut: ….english also has some appeal: it associated with upward mobility, it is the language of the of the international community and it is used in the international mass media, which may make it particularly appealing to these young people.
Melalui teori yang diungkapkan oleh Mesthrie tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa masyarkat yang cenderung melakukan inteferensi dan campur kode tersebut adalah masyarakat perkotaan, dimana wilayahnya memiliki mobilitas tinggi untuk menjangkau semua informasi dari luar, sehingga pengaruh asing begitu cepat membaur termasuk dalam aspek kebahasaannya. Adapun kalangan yang cenderung mendapat arus mobilitas tersebut adalah remaja. Dimana disebutkan bahwa kaum muda kemungkinan lebih dominan dalam menggunakan bahasa Inggris dalam pergaulannya.
Hal lain yang tak lekang dari perhatian seputar alih kode dan inteferensi dalam ke dalam bahasa asing khususnya Inggris adalah media. Karena salah satu hal yang membawa dan mempengaruhi masyarakat kita ke dalam fenomena kemultilingualan tersebut adalah media massa. Ada sebuah pernyataan yang dikutip Holborow dalam bukunya menyatakan bahwa by the year 2000 it is estimated that over one billion people will learning English. English is the main language of books, newspaper, airports and air traffic control, diplomacy, sport, international competition, pop music and advertising. Artinya sejak tahun 1999 buku tersebut dicetak telah dapat diprediksikan bagaimana pesatnya perkembangan bahasa Inggris yang wabahnya meliputi media massa seperti koran dan majalah. Saat ini prediksi tersebut menjadi teori yang teraplikasi karena selain media massa yang mencakup konsumen internasional, media massa berkelas nasional pun telah membuktikan terealisasinya fenomena tersebut. Tidak secara langsung untuk menjadi bahasa dunia tetapi penggunaan bahasa Inggris tersebut berwujud penggabungan dengan bahasa nasional. Pengaruh bahas asing tersebut secara tidak langsung juga mempengaruhi masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh Scannnel (2007:10) bahwa pada dasarnya, kondisi dunia nyata mempengaruhi media massa, dan sebaliknya keberadaan media massa juga mempengaruhi kondisi dunia nyata. Jadi dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara fenomena kemultibahasaan dengan media massa.
Beranjak dari pernyataan sebelumnya, adapun pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana inteferensi dan alih kode antara bahasa Indonesia dan Inggris yang dominan terjadi pada beberapa rubrik majalah remaja di Indonesia, sehingga melalui pembahasan makalah ini dapat dilihat sebuah gambaran fenomena seperti apa yang terjadi dalam kemultibahasaan kaum muda saat ini melalui salah satu majalah yang dianggap penulis dapat mewakili kondisi media yang berkembang dalam kalangan remaja, yaitu majalah sister. Majalah sister merupakan majalah khusus remaja perempuan yang terbit terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 2008. Majalah ini merupakan majalah bulanan yang isinya menguak semua info terbaru mengenai remaja wanita. Yang menarik pada bagian majalah ini adalah nama yang dilekatkan untuk majalah ini sendiri yang menggunakan bahasa Inggris, yaitu ‘Sister’. Dari segi nama yang cenderung memilih bahasa asing, sedangkan penyajian isi nya sendiri dalam bahasa Indonesia menjadi bentuk pengacauan apabila kita memandangnya dari keselarasan isi dan judul. Oleh karena itu, penulis memilih data bahasa yang digunakan dalam majalah Sister untuk pembahsan dalam makalah ini.
2. KERANGKA TEORI
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dinamis dan dapat berubah seiring dengan interaksi penggunanya. Seperti yang diungkapkan oleh Coulmas (2005:122) communicative interaction should not be seen as unfolding in a space of pre-exiting social meaning but rather as dynamic process whose participants create social meaning as the go along, accommodating each other in a continous give and take. Fenomena kenonbakuan bahasa, serta percamuran yang secara preskriptif dipandang menentang sistem yang telah dibuat merupakan hal yang alamiah terjadi dan tidak dapat dicegah. Bagaimana kita memandang pelanggaran sistem tersebut bukanlah hanya sebagai pihak yang memutuskan tindakan tersebut sebagai bentuk negative melainkan sebuah titik pengamatan yang harus ditemukan sumbernya dan dilakukan langkah yang dirasa perlu untuk menjaga bahasa kesatuan kita.
2.1. Alih Kode dan Inteferensi
Sebelum memasuki pembahasan mengenai alih kode dan inteferensi berikut dipaparkan beberapa teori yang mejelaskan bentuk dari alih kode dan interferensi. Romaine menjelaskan (1994:58) code switches will tend to occur at points where the juxtaposition of elements from the two languages does not violate a syntactic rule of either language. Artinya, terjadinya percampuran kedua bahasa tidak saling mengacaukan kaidah salah satu bahasa yang dipadukan. Berbeda halnnya dengan inteferensi, sepert yang dikemukakan oleh Weinreich dalam Chaer (2004:120) bahwa inteferensi merupakan perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Proses dari inteferensi tersebut dijelaskan juga oleh Coulmas (2005:111) interference, on the other hand, result from the default use of the first language of a person as reference system for other languages. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa ketika alih kode menggabunkan dua bahsa sesuai dengan sistem bahasa tersebut, maka yang terjadi pada inteferensi justru sebaliknya karena menimbulkan sebuah kekacauan sistem dimana satu bahasa digunakan dengan mengacu bahasa yang lain (diungkapkan juga oleh Chaer). Adapun kondisi social tempat dimana fenomena alih kode tersebut dapat terjadi digambarkan Coulmas (2005:121) sebagai berikut:
The social environments in which code-switching occurs are varied and, accordingly, many social variables… these variables include community norms and values, ethnicity, speakers’ level of education and fluency, immigrant status, social relations, relative prestige of the languages involved and setting, among others.

Dapat diketahui bahwa variable social seperti kesepakatan suatu komunitas, nilai budaa, pendidikan, status social merupakan komponen yang sangat mempengaruhi masyarakat untuk beralih kode.

2.2. Media Massa
Media massa merupakan sumber informasi yang disajikan kepada masyarakat dalam bentuk teks. Menurut Tholson (2006:9), terdapat tiga unsur yang harus diperhatikan dalam membuat teks tersebut, di antaranya: interactivity, performativity dan liveliness. Interactivity berarti penulis teks ditntut untuk memilih kata yang sesuai sehingga terjalin hubungan antara penulis dan pembaca dalam rangka penyampaian makna. Performativity berarti penulisan teks harus memperhatikan penampilan bahasa yang disampaikan, sehingga menarik orang yang membacanya. Liveliness berarti pilihan kata harus dapat menghidupkan suasana yang ditandai adanya respon dari pembaca.
Tentunya menyajikan berita dalam bentuk teks memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi daripada melalui media elektronik. Penulis harus benar-benar lihai dalam memilih kata yang ekspresif, sehingga apa yang disampaikan benar-beenar dapat diterima sepenuhnya. Berbeda dengan Koran, majalah (khususnya majalah remaja)lebih minim dalam menyampaikan berita yang berupa fakta kejadian penting dunia. Kalau koran atau majalah konsumsi kalangan dewasa lebih cenderung kepada masalah politik, hukum, criminal dan lainnya, sedangkan majalah remaja lenbih kepada sebuah hiburan, mengedepankan fashion, kegiatan di luar pendidikan, hobi, fashion, dunia hiburan, walaupun terdapat beberapa informasi dunia yang penting kecendrungan merupakan seputar kehidupan selebritis atau kecanggihan tekhnologi yang berkembang di kalangan remaja (hasil pengamatan terhadap bahan data yang digunakan penulis dalam makalah ini). Sehingga pada akhirnya melalui satu media, kalangan remaja memperoleh banyak pengetahuan yang cenderung mereka imitasi dan mencoba mengikuti pola kehidupan yang mereka dapat melalui majalah tersebut.

2.3. Teori E-135
Teori e-135 merupakan teori analisis wacana yang dikembangkan dengan memadukan tahap-tahapan wacana fungsional dan kritis. Metode analisis dalam teori e-135 ini dibagi menjadi 5 tahapan, yaitu:
1. Elaborasi
Tahap ini merupakan tahapan linguistik mikro pada bagian data yang akan di analisis. Tahap ini memandang teks sebagai wujud material yang merupakan produk dari wacana itu sendiri.
2. Representasi
Merupakan tahapan yang menganalisis hubungan bahasa sebagai tanda yang menggambarkan realitas yang ada tentang manusia, fakta, peristiwa dan lainnya. Tahapan ini mengkaji hubungan interteks dalam wacana.
3. Tahap Signifikasi
Tahap ini merupakan tahap interpretasi teks secara kritis. Tahapan ini merupakan gabungan antara tahapan semiotik dan analisis kritis.
4. Tahap Eksplorasi
Tahapah ini merupakan analisis tanda secara mendalam, dimana tanda dieksplorasi secara mendalam. Pendekatan hipersemiotika digunakan pada tahapan ini.
5. Tahap Transfigurasi
Tahap ini merupakan tahap pemetaan makna. Dimana tahap ini merupakan penggabungan antar interpretasi pemroduksi kode, interterpretasi kode itu sendiri dan interpretasi yang pengonsumsi kode tersebut.
(keseluruhan keterangan mengenai teori e-135 dikuti melalui Draf teori wacana e-135 oleh Sawirman).


3. PEMBAHASAN
3.1. Data
Penulis mengambil majalah Sister edisi bulan Oktober sebagai media mengambil data. Adapun beberapa populasi yang ditemukan, penulis memilih 2 buah sample sebagai perwakilan analisis. Adapun data tersebut, sebagai berikut:











Gambar 1. Data I Gambar 2. Data II

3.2. Analisis Data dengan Menggunakan Teori E-135
(1) Gotta have fashion
My Lovely canvas shoes
Kini Crocs hadir dengan gaya berbeda. Tidak lagi identik dengan sandal, kelom atau sepatu terbuka. Crocs justru menghadirkan Santa Cruz sepatu berbahan canvas dengan alasnya dijamin nyaman di kaki. Kamu juga bisa memilih corak dan warnanya sesuai selera. Model yang casual dan tetap sopan dipakai dimana pun, membuat sister menjadikan Santa Cruz must have fashion item this month!.
Rubrik ini dalam majalah Sister dinamai rubrik ‘gotta have fashion’, dimana dalam rubrik ini biasanya disajikan untuk memberi informasi mengenai gaya terbaru yang akan menjadi populer di kalangan remaja.
(2) Grand Female Photo Festival
Topshop, fashion store favorit kamu ternyata sudah ada dari tahun 1964 lho! Ide awalnya adalah membuat sebuah toko dengan konsep up-to-the-minute affordable style. Padahal, tadinya Topshop bermula dari basement milik Peter Robinson, sebuah department store di Inggris Utara, tahun 1964. Setahun kemudian, Topshop dipindahkan ke cabang Peter Robinson di Oxford Circus, yang ramai banget dengan oran lalu lalang. Karena itulah, Topshop jadi dikenal banyak orang dan nggak sampai sepuluh tahun, Topshop sudah dapat berdiri sendiri. Sejak tahun 1994, Topshop sudah menjadi fashion store terbesar yang menarik 200.000 shoppers setiap minggunya. Pada tahun 2005, Topshop makin menunjukkan jati dirinya dengan ikutan dalam jadwal London Fashion Week. Para pelanggan Topshop bisa berasal dari berbagai range usia, mulai dari early teens hinggga usia 50-an. Karakter dari pelanggan Topshop adalah loyal,memperhatikan dan sadarfashion tapi tidak terdikte oleh fashion. Topshopper selalu mencari gaya unik dan outstanding dibanding yang lain. Topshop gives you new experiance in shopping!
Tahap e-135:
3.2.1. Tahap Elaborasi
Dalam data pertama dapat ditandai inteferensi dan alih kode pada kalimat berikut:
model casual dan tetap sopan dipakai dimanapun, membuat membuat sister menjadikan Santa Cruz must have fashion item this month!.
‘casual’ merupakan bentuk inteferensi dalam kalimat, dan ‘must have fashion item this month’ merupakan bentuk alih kode.
Secara baku, satu kesatuan kalimat tidak boleh menempatkan dua bahasa yang berbeda. Kata casual yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘sederhana’. Kata ini bukan merupakan serapan. Tetapi redaksi menggunakannya secara sengaja untuk menggambarkan bentuk model sepatu yang sederhana, dan dipakai dalam situasi non formal. Kemudian pada data alih kode. Kalimat must have fashion item this month dalam bahasa Indonesia berarti ‘benda mode terkini yang harus dimiliki bulan ini’
must have sebagai pembentuk frase nomina untuk objek item dalam kalimat mengalami alih kode bersamaan dengan this month yang berkedudukan sebagai keterangan waktu. Apabila ditelaah kembali keseluruhan teks juga terdapat bentuk percampuran bahasa, yaitu terdapat dalam judul, sebagai berikut:
‘gotta have fashion’ yang terdapat disudut kiri atas yang meberitahukan bahwa rubrik yang disampaikan pada halaman ini adalah rubrik ‘mode yang harus dimiliki’ sebagai penerjemahan dari gotta have fashion. Kemudian kita lihat kembali judul my lovely ‘canvas’ shoes, apabila diterjemahkan menjadi ‘sepatu canvas kesayangan saya’. Dari bagian analisis yang pada data ini ditemukan bahwa majalah ini tidak hanya melekatkan bahasa Inggris untuk penamaan dirinya, tetapi jenis rubrik dan judul dari setia informasi bahkan isi itu sendiri juga tidak dapat meninggalkan bahasa Inggris dalam merangkai setiap kalimat.
Dalam data kedua, ditemukan inteferensi dan alih kode sebagai berikut:
· Topshop, fashion store favorit kamu ternyata sudah ada dari tahun 1964 lho! Ide awalnya adalah membuat sebuah toko dengan konsep up-to-the-minute affordable style.
· Padahal, tadinya Topshop bermula dari basement milik Peter Robinson, sebuah departement store di Inggris Utara, tahun 1964.
· Sejak tahun 1994, Topshop sudah menjadi fashion store terbesar yang menarik 200.000 shoppers setiap minggunya.
· Para pelanggan Topshop bisa berasal dari berbagai range usia, mulai dari early teens hinggga usia 50-an.
· Topshopper selaluu mencari gaya unik dan outstanding dibanding yang lain. Topshop gives you new experiance in shopping!
Fashion store yang dapat diartikan ‘toko mode’ sama sekali tidak pernah diungkapkan dalam bahasa Indonesia dalam rubrik ini. Fashion store yang jelas memiliki padanan dalam bahasa Indonesia seolah-olah digunakan dalam bentuk serapan ataupun dianggap sebagai sebuah penabalan terhadap sesuatu hal yang di Indonesia tidak dapat ditemui bentuknya. Padahal kalau dilihat dari gambar, redaksi ingin mengungkapkan representasi dari sebuah ‘toko baju’ yang menyediakan baju-baju yang paling populer pada setiap zaman dengan kata fashion store. Apabila di analisis secara semantik, tentunya tidak ada bagian komponen makna yang hilang kalau saja redaksi menyebutkan kata ‘toko baju’ untuk ungkapan fashion store, karena di Indonesia pun bentuk tempat penjualan baju seperti itu juga banyak ditemui di Indonesia. Sama halnya dengan kata departement store, kata ini juga berarti toko. Kalau fashion store lebih mengacu kepada toko atau perangkat lain sepertti tas dan sepatu, sedangkan departement store lebih luas dan tidak spesifik. Berbeda dengan fashion store, kata departement store lebih cenderung umum digunakan di Indonesia seolah-olah menjadi bahasa serapan.
Kata basement yang berarti ‘ruang bawah tanah’ diinteferensi dengan alasan perbedaan fungsi dalam penggunaan ‘ruang bawah tanah’ tersebut. Di Indonesia cenderung langka ditemukan toko yang didirikan di bawah tanah. Perbedaan fungsi ruangan tersebut menjadi pemicu redaksi untuk memilih kata basement daripada ruang bawah tanah.
Kemudian untuk kata shoppers yang diartikan ‘pengunjung’ atau ‘pembelanja’ dalam bahasa Indonesia. Terdapat sebuah ketidakseimbangan dalam struktur inteferensi, karena pada bagian berikutnya redaksi menyebutkan kata ‘pelanggan’. Kalau ingin keselarasan bentuk panggunaan bahsa, redaksi bisa saja menyebutkan Topshopper untuk kata pelanggan.
Pada bagian berikutnya terdapat kata range yang berarti ‘rata-rata’. Kata ini digunakan untuk menunjukkan ‘rata-rata usia’ pengunjung yang datang ke toko Topshop. Terdapat juga earlyteens yang menunjukkan makna ‘para remaja ABG’. Disini juga terdapat ketidakkonsistenan inteferensi, karena pengungkapan kalangan umur berikutnya digunakan bahasa Indonesia, yaitu ’50-an’. Begitu juga dengan kata outstanding yang ddigunakan untuk mengungkapkan kata ‘terkemuka’. Kata outstanding sendiri yang dihubungkan dengan kata penghubung ‘dan’ dengan kata ‘gaya unik’ yang merupakan bahsa Indonesia. Perpaduan yang mengacaukan struktur kalimat, karena bahsa Indonesia masih cukup porsi untuk dikemukakan dengan kata ‘terkemuka’.
Untuk alih kode ditemukan ungkapan up-to-minute affordable style dapat diartikan ‘dapat menghasilkan gaya yang tidak ketinggalan dalam setiap menit pun’. Mungkin alih kode ini diungkapkkan untuk menyingkat gagasan yang ingin disampaikan oleh redaksi. Karena kata up-to-minute juga susah diterjemahkan ungkapan maknanya secara singkat dalam bahasa Indonesia. Kemudian kalimat Topshop gives you new experience in shopping yang berarti ‘Topshop memberikanmu pengalaman baru dalam berbelanja’. Kalimat yang merrupakan penutup dari isi keseluruhan rubrik ini. Ungkapan ini semakin membuat kita ragu, sebenarnya bentuk bahsa yang seperti apa yang diciptakan redaksi sebagai media menyampaikan gagasan mereka. Seperti yang telah disebutkan pada analisis data pertama, data kedua ini juga dikutip dari rubrik yang dinamai dengan bahasa Inggris, yaitu: female photo festival yang berarti ‘festival foto wanita’, artinya rubrik ini merupakan sponsor yang mendukung acara garapan Sister yaitu ‘female photo festival’.
3.2.2. Tahap Representasi
Pada data pertama kata casual diinteferensikan ke dalamm kalimat untuk menggambarkan bentuk sepatu yang desainnya sederhana. Sedangkan alih kode untuk kalimat must have fashion item this month apabila kita hubungkan dengan gottta have fashion dan my lovely canvas shoes maka dapat diambil satu kesimpulan, bahwa sepatu yang dipromosikan merupakan sepatu yang sedang populer pada saat ini. Tiga bentuk kalimat yang digolongkan penulis menjadi data alih kode tersebut sebagai wakil dari gagasan redaksi yang menyatakan bahwa sepatu yang ditawarkannya dalam rubrik tersebut merupakan sepatu dengan mode terbaru yang akan populer di kalangan remaja wanita. Kata item yang merujuk pada ‘sepatu’ yang ditawarkan disempaikan melalui gagasan bahasa Inggris. Apabila kita telaah secara interteks maka dapat dihubungkan bahwa sepatu bermerek Cros yang diiklankan dalam majalah tersebut merupakan sepatu impor dari Amerika yang hanya dijual pada segelintir toko di Indonesia. Penggunaan bahasa asing sendiri dimaksudkan redaksi untuk lebih menekankan kesan impor barang tersebut, sehingga untuk menjelaskannya redaksi juga harus mengimpor bahasa Inggris.
Kemudian pada data kedua, inteferensi ditemukan pada kata fashion, store shoppers, early teens dan range. Kata yang diinteferensi merujuk pada pengunjung toko, mode baju yang ditawarkan, dan rata-rata kalangan yang mengunjungi dipandang dari segi usia mereka. Apabila kita lihat data yang mengalami alih kode, terdapat kalimat up-to-the-minute affordable style dan Topshop gives you new experience in shopping. Kalimat pertama merupakan slogan dari toko sendiri yang menyatakan bahwa bagaiman toko tersebut menyediakan model baju yang paling baru hingga toko tersebut dijamin tidak pernah ketinngalan zaman semenit pun. Apabila kemudian dikorelasikan pada kalimat kedua yang menyatakan makna bahwa ‘Topshop dapat memberikan pengalaman baru dalam berbelanja’ dapat dibayangkan bagaimana representasi makna kedua ungkapan tersebut yang mewakili kemegahan sebuah toko baju dapat mengakomodasi seluruh mode baju dalam satuan menit, yang dikunjungi lebih dari 200.000 pengunjung setiap minggunya serta merupakan toko yang mennjadi ikon dari acara London Fashion Week. Toko Topshop yang menjadi topik pembahasan dalam rubrik merupakan toko yang berada di luar negri, yaitu Oxford. Terkemuka di London, tidak tersedia di Indonesia merupakan salah satu alasan mengapa redaksi penting untuk beralih kode dalam menyampaikan gagasan dalam rubrik ini. Slogan up-to-the-minute affordable style dimungkinkan merupakan ekspresi yang menggambarkan bagaimana sebuah toko dapat menjadi ikon di London yang di dunia dikenal sebagai kota serba fashion. Slogan itu sendiri diungkapkkan dalam bahasa Inggris agar nuansa ‘London’ yang melekat pada toko tersebut tidak hilang dan dapat mewakili nilai ‘barat’ yang ada pada produk yang dijual.
3.2.3. Tahap signifikasi
Apabila kedua data kita telaah, maka dapat digambarkan sebagai berikut:
Data I
Sepatu : Merek crocs, buatan Amerika.
Data II
Toko baju : Topshop, berada di Oxford, menjadi ikon pada acara London Fashion Week
Amerika dan London merupakan negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Kedua produk dari kedua negara tersebut kemudian diiklankan dalam sebuah majalah yang diperuntukkan bagi kalangan remaja wanita di Indonesia. Tentunya terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi redaksi dalam menyampaikan gagasan produk tersebut. Bahasa Inggris yang dicampurkan ke dalam bahasa pengantar majalah yang merupakan bahasa Indonesia. Kesan internasional dari produk tersebut ingin disimbolkan redaksi majalah melalui intefensi dan alih kode yang mereka lakukan. Apabila kita telaah kembali, bagaimana majalah ini dinamai ‘Sister’ yang juga merupakan bahasa asing, padahal isinya dutujukan untuk konsumer remaja di Indonesia. Kemudian apabila kita telusuri mendalam mengenai majalah ini, maka didapat keterangan bahwa majalah ini selalu menggunakan model luar negri sebagai model sampul depan malajalah. Uniknya semua judul rubrik juga dinamai dengan bahasa Iggris. Bahkan motto dari majalah Sister juga dirangkai dalam bahasa Inggris, yaitu teens’ way magazine. Berarti dari majalah Sister dapat digambarkan hal berikut:
Majalah : Sister (penamaan dalam bahasa Inggris), jenis rubrik dinamai dengan bahasa Inggris, teens’ way magazine (motto dalam bahasa Inggris), model sampul berasal dar i luar negeri.
Keterangan lengkap dari majalah sudah dapat menggambarkan bagaimana majalah disimbolkan melalui ineteferensi dan alih kode.
3.2.4. Tahap Eksplorasi
Pada tahap ini , data akan dikaji melalui pisau hipersemiotika. Pilliang (2003:52) hipersemiotika adalah sebuah ilmu tentang produksi tanda, yang melampaui realitas, yang berperan membentuk dunia hiperealitas. Kedua data pada analisis ini dianggap sebagai tanda. Tanda yang mewakili produk luar negri yang dijadikan oleh majalah Sister sebagai sumber untuk dimuat dalam rubriknya. Apabia kita telaah dari segi harga majalah Sister, yang mematok harga Rp 23.700 untuk penjualan di luar Jawa, dan Rp.22.700 untuk di pulau Jawa. Dibandingkan dengan jenis tabloid remaja yang mematok harga berkisar Rp. 7000 sampai dengan Rp. 10.000, Sister sebagai media massa khusus remaja ini dapat digolongkan media ang hanya mampu dikonsumsi oleh remaja kalangan atas.
Selain dari segi harga, bahasa yang digunakan 70:30 antara Indonesia dan Inggris membuat para pelanggannya harus mampu menguasai bahasa Inggris. Kemudian isi yang disajikan juga merupakan info mengenai gaya kalangan remaja di wilayah perkotaan yang rata-rata barang yang ditawarkan oleh redaksi berkisar harga Rp. 200.000-Rp. 10.000.000. Artinya majalah ini tidak memuat barang-barang berkelas rendah. Data yang digunakan dalam analisis merupakan beberapa sampel yang diiklankan dalam majalah Sister. Sepatu ( data I) dan baju (data II) merupakan perangkat yang menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita. Sepatu yang diciptakan untuk melindungi kaki ketika berjalan dan baju yang digunakan untuk melindungi keseluruhan tubuh dalam setiap geraka manusia tetap berfungsi sama walaupun diciptakan dalam mode dan oleh perusahaan pakaian yang berbeda. Di Indonesia, Amerika dan Inggris bahkan keseluruhan manusia di dunia memiliki pandangan yang sama dalam memaknai fungsi sepatu dan baju. Ketika Inggris dan Amerika menjadi Negara yang dilirik oleh seluruh penjuru dunia, maka setiapproduk yang dihasilkannya juga bernilai lebih dibandingkan dengan produk yang diproduksi oleh Negara sendiri, khususnya Indonesia. Ketika benda tersebut pada akhirnya masuk dan diimpor oleh Negara kita, maka terdapat bea tambahan dari hasil pemasukkan barang ke dalam negri. Tidak dapat dipungkiri, tidak hanya sekedar memandang keberhasilan negarana memegang dunia, produk-produk yang diimpor tersebut menawarkan kualitas serta bentuk yang jauh lebih menarik daripada yang pernah kita temui di negeri kita sendiri. Bahan baku produksi yang mahal serta biaya bea masuk oleh impor menjadikan barang-barang tersebut hanya dapat dinikmati oleh golongan atas.
Kemudian muncul sebuah media untuk mempromosikan barang-barang tersebut. Bagaimana sebuah barang yang bernilai tinggi dapat diiklankan, tentunya tidak sembarang media yang dapat mempublikasikannya. Muncullah Sister dengan motto teens’ way magazine sepertinya telah menyelimuti para remaja di Indonesia. Budaya konsumerisme yang memang tidak dapat dicegah menyeruak hingga pada akhirnya dunia remaja dijejali dengan merek produk luar negri. Ketika mereka membuka majalah dan melihat segala informasi di dalamna, muncullah ideology baru bahwa majalah Sister merupakan ajalah kalangan atas yang tenunya barang yang ditawarkan akan dapat menjadi referensi untuk dapat tampil lebih mewah dan elit. Sepatu dan baju sebagai bagian data yang dianalisis sebagai tanda sudah lari dari makna asal sebagai pelindung kaki dan tubuh. Dilain sisi, majalah Sister sendiri yang harus mampu menjelaskan produk yang ditawarkanna harus dapat melekatkan symbol Amerika dan Inggris dalam informasi tersebut, yaitu salah satuna dengan jalan inteferensi dan alih kode dalam untaian informasi yang disampaikan. Tidak ingin ada komponen makna yang terlewatkan dan ingin lebih memperkokohkan status barang tersebut sebagai barang impor merupakan alasan yang dapat kita tarik mengapa pencampuran bahasa dilakukan dalam isi majalah tersebut. Sehingga pada akhirnya kesatuan dari alasan serta pandangan konsumerisme terhadap produk impor menghasilkan budaya remaja yang branded. Artinya sepatu dan baju yang ditawarkan sudah beralih fungsi sebagai symbol kaum berkelas atas. Ketika sepatu dan baju disajikan sebagai informasi dalam majalah Sistr, remaja tidak memandangnya sebagai fungsi sepatu dan baju secara utuh, melainkan sebagai media untuk mereka agar dapat dipandang popular dan tidak ketinggalan zaman, dan juga mengelompokkan diri mereka sebagai bagian kaum kelas atas.
3.2.5. Tahap Transfigurasi
Tahap ini merupakan gabunganinterpretasi pemroduksi kode, kode, dan pengonsumsi kode. Apabila kita telaah sepatu dan baju sebagai symbol yang menghasilkan interfensi dan alih kode, maka dapat digambarkan bagan sebagai berikut:
DATA INTEFERENSI&ALIH KODE


Pemroduksi tanda
(Redaksi Majalah Sister)
tanda
(sepatu&baju)
Pengonsumsi Tanda
(Remaja)
· Sepatu dan baju sebagai tanda yang diproduksi merupakan produk impor dari Amerika dan Inggris. Untuk mendapatkan kesan impor, redaksi melakukan pencampuran dua bahasa antara Inggris (bahasa nasional di Amerika dan Inggris) dan Indonesia ketika menyampaikan informasi guna makna yang disampaikan tertangkap secara keseluruhan. Karena sebagian ungkapan bahasa Inggris tersebut tidak ditemui atau tidak dapat berfungsi sama dalam bahasa Indonesia. Hal ini dapat dihubungkan dengan tuntutan interactivity media massa, agar yang disampaikan dapat lebih hidup dan berhubungan dengan media penyampaian (produk Amerika&Inggris dipromosikan dengan bahasa Inggris)
· Majalah Sister merupakan majalah remaja. Terkait dengan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, para redaksi memiliki konsep agar mencitakan sebuah majalah yang dapat menjadi media untuk penguasaan bahasa Inggris tingkat remaja. Sehinggga konsep bahasa asing yang sudah dimulai dari penamaan, judul rubric dan beberapa bagian isi sengaja diciptakan redaksi sebagai bentuk peningkatan penguasaan bahasa asing. Ini merupakan bagian performativity, yaitu menyajukan sesuatu bentuk yang lebih menarik pembaca untuk mengkonsumsi media.
· Sepatu, sebagai benda yang berfungsi untuk melindungi kaki.
· Amerika menciptakan produk Crocs sebagai konsep agar lebih menarik digunakan serta menambah kesan tampilan yang lebih bergaya pada pemakainya.
· Baju sebagai benda pelindung tubuh.
· Topshop toko baju di Oxford yang banyak dikunjungi pelanggan karena letaknya strategis.
· Model baju yang diciptakan Topshop mengikuti kurun waktu yang tidak pernah ketinggalan zaman.
· Toko baju yang menjadi ikon pada acara London Fashion Week
· Majalah hanya dapat dikonsumsi kalangan atas, sehingga pastinya apa yang diiklankan juga merupakan barang mewah yang dapat menunjukkan keeleganan pemakainya.
· Ingin selalu tampil terbaru mengikuti gaya yang ada dimajalah agar tidak dipandang ketinggalan zaman.
· Sehingga sepatu dan baju tidak lagi digunakan menurut fungsinya, tetapi symbol yang mengelompokkan diri kita berbeda dengan kelompok yang lain.
· Produk luar negeri yang terkesan mahal dan menggambarkan pemakainya adalah orang yang berselera tingi.
· Kaum elit yang peduli akan penampilan.
· Terbiasa dengan pengaruh bahasa Inggris, menimbulkan dampak yang buruk terhadap penguasaan bahasa sendiri.

Melalui analisis data dengan lima tahap e-135, dapat dimunculkan beberapa kriterian kesalahan redaksi dalam menyajikan informasi sebagai pembelajaran bahasa bagi remaja. Tapi dari media sendiri, tindakan ang mereka lakukan terkait dengan keterbatasan bahasa serta arus globalisasi bahasa Inggris yang ikut menyerang lingkungan social sekitar kita. Mungkin sebagai satu keharusan untuk dapat memahami bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di tengah kemajuan tekhnologi yang menyediakan fasilitas internet untuk menjangkau informasi dunia dalam bahasa Inggris. Menjadi suatu hal yang wajar, kalau majalah Sister yang beredar di Indonesia pada saat ini mulai mengenalkan beberapa ungkapan yang ditulis dalam bahasa Inggris dalam memparkan beberapa kalimat. Mereka mempunyai satu tujuan yang positif yaitu agar remaja di Indonesia dapat mengenal beberapa ungkapan sederhana yang dapat mereka ketahui dari membaca majalah tersebut. Selain itu, media massa sendiri seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, menuntut unsur performativity, yang harus dapat menyajikan sebuah teks yang menarik para pembacanya. Kenonbakuan dalam penggunaan bahasa terkadang lebih mudah dimengerti dan lebih menjalin sebuah hubungan yang akrab antara pembaca dan penulis berita (merupakan salah satu tuntutan unsur iteractivity dalam media massa). Kemudian hal lain yang mendukung kenonbakuan tersebut adalah karena majalah tersebut dikosumsi oleh kalangan remaja dan tujuan dari majalah itu sendiri adalah menyampaikan segala informasi dunia remaja yang lebih informal, sehingga cenderung tidak cocok dan lebih susah untuk ditangkap oleh kalangan remaja apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa baku yang biasanya dipakai dalam situasi formal.
Walaupun memiliki alasan kuat terhadap hal tersebut, tetap saja fenomena kebahasaan yang mereka ciptakan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena telah banyak kasus yang terjadi membuktikan bahwa telah terjadi penurunan penguasaan bahasa Indonesia di tingkat SMA (yang dapat digolongkan remaja). Pada seminar Linguistik Internasional di Medan yang pernah penulis ikuti, terdapat sebuah pernyataan dari seorang Professor (namanya tidak tercatat oleh penulis) dari bidang linguistic yang mengatakan kegagalan siswa SMA dalam menyelesaikan tugas matematika dominan pada soal cerita, dan ketika dibuat angket berupa pertanyaan hasilnya menyatakan bahwa mereka terlalu susah memahami alur cerita dari soal tersebut, artinya mereka kurang memahami bahasa yang digunakan pada soal tersebut, sehingga walaupun mereka mengetahui rumus serta jalan kerja soal tersebut tetapi susah bagi mereka menyimpulkannya pada akhirnya mereka salah mencari jalan keluar dari soal.
Salah satu pengaruh besar yang menyebabkan merebaknya masalah tersebut tentunya dapat kita hubungkan dengan peran media massa. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan bahwa media massa dan keadaan dunia merupakan dua hal yang sangat mempengaruhi. Melalui media massa remaja mengenal istilah baru yang serba bahasa Inggris, sehingga pada akhirnya mereka mengaplikasikannnya pada komunikasi sehari-hari dan kemudian menenggelamkan bhasa Indonesia. Jelasnya dapat kita lihat bagaimana kata-kata seperti e-mail, handphone, download, upload chatting, browsing dan lainnya yang telah dibuat terjemaham bahasa Indonesia, tetap saja di acuhkan dan terdengar asing bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh remaja. Semua tidak dapat ditumpahkan kepada mereka karena dari pemerintah sendiri tidak pernah mengadakan sosialisasi yang sungguh-sungguh terhadap kemunculan kosa kata baru tersebut.
4. PENUTUP
Globalisasi dunia merambah ke dalam aspek kehidupan seluruh Negara termasuk Indonesia. Adapun bagian menonjol yang sangat terlihat dampaknya adalah dari segi bahasa. Bagaimana bahasa Inggris merebak dan melahirkan fenomena baru terhadap bahasa Indonesia dapat kita lihat melalui kasus alih kode dan inteferensi yang dikenal dengan kasus kemultibahasaan. Media massa merupakan wadah yang dapat merekam dengan jelas bagaimana kemultibahasaan tersebut juga telah melanda penggunaan bahasa Indonesia. Salah satunya majalah remaja.
Berbeda dengan alih kode yang tidak merusak sistem dua bahasa yang dicampur, inteferensi justru sebaliknya terdapat pengacauan sistem bahasa akibat percampuran tersebut, dan dalam pembahasan ini cenderung penyimpangan terjadi pada penggunaan bahasa Inggris yang diungkapkan dengan sistem bahasa Indonesia. Kasus yang ditimbulkan oleh media massa tersebut tentu dapat kita jadikan salah satu penyebab menurunnnya kemapuan bahasa Indonesia pada tingkat remaja. Tidak dapat disalahakan juga, media menggunakan bahasa tersebut guna tuntutan dari media massa sendiri agar dapat tampil menarik pembaca dan menciptakan hubungan yang dekat antara pembaca dan penulis media massa.
Salah satu dampak yang begitu nyata adalah bahwa bahasa Inggris yang telah dilahirkan padanannya dalam bahasa Indonesia tetap saja digunakan, malahan bagi kalangan remaja istilah dari bahasa ibu mereka sendiri kedengaran asing dan bahkan beberpa di antaranya mengaku belum pernah mendengarnya. Tentunya kesalahan tidak sepenuhnya dapat ditumpahkan kepada remaja, karena pemerintah sendiri cenderung tidak berniat untuk melakukan sosialisasi dengan sungguh-sungguh, di lain sisi media terus-terusan dikonsumsi dan menjadi isinya cenderung menjadi pedoman bagi remaja sebagai sumber informasi dunia mereka.
Daftar Bacaan:
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaika, Elaine. 1982. Language The Social Mirror. Rowley: Newbury House Publisher.
Coulmas, Florian.2005. Sosiolinguistics; The Study of Speaker’s Choices. New York: Cambridge University Press.
Duranti. 2002. Linguistic Anthropology. New York: Cambridge University Press.
Foley, William A. 1999. Anthropological Linguistics: An Introduction. USA: Blackwell Publisher.
Holborow, Marnie. 1999. The Politics of English: A Marxist View of Language. Sage Publications: London.
Kramsch, Claire. Language and Culture. London: Oxford University Press.
Mesthrie, Rajend, et. al. 2001. Introducing Sociolinguistics. Edinburgh University Press.
Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Padang: Andalas University Press.
Pilliang, Yasraf. 2003. Hiper Semiotika, Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Bandung: Jala Sutra.
Scannel, Paddy. 2007. Media and Communication. London: Sage Publication Ltd.
Shadily, Hasan dan John M.Echols. 1996. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Tolson, Andrew. 2006. Media Talk. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.
Thomas, Linda et al.2004. Language, Society and Power. London: Routledge.
Tim Penyusun. “Seminar Internasional Pertemuan Linguistik Utara-6”. Prosiding. Medan
Wareing, Shan, et.al. 2004. Language, Society and Power. London: Routledge.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar